Tampilkan postingan dengan label Penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit. Tampilkan semua postingan

23 Maret 2012

Waspada Stomatitis !

Stomatitis atau sariawan sering kita lihat dan kita rasakan. Lalu apa itu stomatitis? Menurut drg J Bambang S dari RS Dr Mohammad Hosein Palembang, stomatitis adalah luka yang muncul pada jaringan lunak pada mulut. Luka tersebut kadang satu kadang beberapa bahkan ada yang berada diseluruh permukaan mukosa mulut.
’’Umumnya stomatitis dapat sembuh dengan sendirinya. Sariawan ini dapat terjadi karena tergigit, terkena duri ikan dan terkena sikat gigi, serta akibat kekurangan vitamin C,’’ujar dokter yang akrab disapa Bambang ini.
Namun, sambungnya, dengan semakin banyaknya penyakit seperti stomatitis itu harus diwaspadai. Adapun penyakit yang tanda-tandanya seperti sariawan adalah herpes. Herpes dapat muncul dimana saja termasuk di dalam mulut.
Penyebab Stomatitis
Stomatitis merupakan penyakit yang diakibatkan dengan adanya jamur pada mulut dan saluran kerongkongan. Jamur yang sekarang kebih dikenal dengan sebutan Candida albicans bukanlah jamur yang aneh dan berbahaya. Hampir di setiap jengkal tubuh kita mengandung jamur ini termasuk di daerah mukosa mulut dan alat kelamin, namun adanya jamur ini tidak menimbulkan keluhan yang berarti. Dulu jamur ini lebih dikenal dengan sebutan Jamur Monilia. Jamur ini sering menimbulkan keluhan dikarenakan daya tahan tubuh manusia (imuno) yang menurun sehingga pertahanan terhadap jamur dan bakteri lainnya berkurang. Dengan demikian penyakit yang ringan pada mulut ini bisa mengindikasikan penyakit yang lebih berat. Meski penyakit ini tidak begitu berat namun tetap saja keberadaan penyakit ini dapat mengganggu aktifitas sehari-hari.
Faktor Risiko Stomatitis
Ada beberapa faktor-faktor risiko penyebab yang dapat mengakibatkan stomatitis diantaranya:
1. Keadaan gigi pasien, karena higiene gigi yang buruk sering dapat menjadi penyebab timbulnya sariawan yang berulang.
2. Luka tergigit, bisa terjadi karena bekas dari tergigit itu bisa menimbulkan ulser sehingga dapat mengakibatkan stomatitis aphtosa.
3. Mengkonsumsi air dingin atau air panas.
4. Alergi, bisa terjadi karena kenaikan kadar IgE dan keterkaitan antara beberapa jenis makanan dan timbulnya ulser.
5. Faktor herediter bisa terjadi, misalnya kesamaan yang tinggi pada anak kembar, dan pada anak-anak yang kedua orangtuanya menderita stomatitis aphtosa.
6. Kelainan pencernaan.
7. Faktor psikologis (stress).
8. Gangguan hormonal (seperti sebelum atau sesudah menstruasi
9. Pada penderita yang sering merokok.
10. Pada penggunaan obat kumur yang mengandung bahan-bahan pengering (misal,alkohol, lemon/ gliserin) harus dihindari.
11. Kekurangan vitamin C
12. Kekurangan vitamin B dan zat besi.
Stomatitis ini sering menyerang siapa saja. Tidak mengenal umur maupun jenis kelamin. Biasanya daerah yang paling sering timbul sariawan ini adalah di mukosa pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah serta di langit – langit.
Gejala Stomatitis
Gejalanya berupa rasa panas atau terbakar yang terjadi satu atau dua hari yang kemudian bisa menimbulkan luka (ulser) di rongga mulut. Bercak luka yang ditimbulkan akibat dari sariawan ini agak kaku dan sangat peka terhadap gerakan lidah atau mulut sehingga rasa sakit atau rasa panas yang dirasakan ini dapat membuat kita susah makan, susah minum, ataupun susah berbicara. Penderita penyakit ini biasanya juga banyak mengeluarkan air liur. Biasanya sariawan ini akan sembuh dengan sendirinya adalam waktu empat sampai 20 hari. Bila penyakit ini belum sembuh sampai waktu 20 hari maka penderita harus diperiksa lebih lanjut untuk menentukan apakah ada sel kankernya atau
Macam-macam Stomatitis
a. Mycotic stomatitis
Mycotic stomatitis adalah stomatitis yang disebabkan oleh adanya infeksi mulut atau rongga mulut oleh jamur Candida. Mycotic stomatitis, disebabkan oleh pertumbuhan Candida albicans , yang merupakan penyebab stomatitis yang luar biasa pada anjing dan kucing. Hal ini ditandai dengan adanya bercak putih kekuningan pada lidah atau membran mukosa. Mycotic stomatitis biasanya dihubungkan dengan penyakit mulut yang lain, penggunaan terapi antibiotik yang lama, atau pemberian immunosuppression. Pada mycotic stomatitis sering kali pada jaringan terjadi kemerahan dan timbul ulsor di bagian rongga mulut.
b. Gingivostomatitis
Gingivostomatitis merupakan infeksi virus pada gusi dan bagian mulut lainnya, yang menimbulkan nyeri. Gusi tampak berwarna merah terang dan terdapat banyak luka terbuka yang berwarna putih atau kuning di dalam mulut.
c. Denture stomatitis atau Chronic stomatitis
Denture stomatitis adalah suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan perubahan-perubahan patologik pada mukosa penyangga gigi tiruan di dalam rongga mulut. Perubahan-perubahan tersebut ditandai dengan adanya eritema di bawah gigi tiruan lengkap atau sebagian baik di rahang atas maupun di rahang bawah.
Budtz-Jorgensenl mengemukakan bahwa denture stomatitis dapat disebabkan oleh bermacam- macam faktor yaitu: trauma, infeksi, pemakaian gigi tiruan yang terus-menerus, oral hygiene jelek, alergi, dan gangguan faktor sistemik. Oleh karena itu, gambaran klinis maupun gambaran histopatologis juga bervariasi, sehingga perawatannyapun perlu dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan kemungkinan penyebabnya.
d. Aphthous stomatitis.
Apthous stomatitis (sariawan) adalah stomatitis yang paling umum sering terjadi. Sariawan ini adalah jenis ulkus yang sangat nyeri pada jaringan lunak mulut, bibir, lidah, pipi bagian dalam, pharing, dan langit-langit mulut halus. Tipe sariawan ini tidak menular.
Stomatitis aphtosa ini mempunyai 2 jenis tipe penyakit, diantaranya:
1. Sariawan akut bisa disebabkan oleh trauma sikat gigi, tergigit, dan sebagainya. Pada sariawan akut ini bila dibiarkan saja akan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari.
2. Sariawan kronis akan sulit sembuh jika dibiarkan tanpa diberi tindakan apa-apa. Sariawan jenis ini disebabkan oleh xerostomia (mulut kering). Pada keadaan mulut kering, kuantitas saliva atau air ludah berkurang. Akibatnya kualitasnya pun juga akan berkurang. Penyebab dari xerostomia ini bisa disebabkan gangguan psikologis (stress), perubahan hormonal, gangguan pencernaan, sensitif terhadap makanan tertantu dan terlalu banyak mengonsumsi antihistamin atau sedatif.
Adapun secara klinis stomatitis aphtosa ini dapat dibagi menjadi 3 subtipe, diantaranya:
1. Stomatitis aphtosa minor (MiRAS)
Sebagian besar pasien menderita stomatitis aphtosa bentuk minor ini. Yang ditandai oleh luka (ulser) bulat atau oval, dangkal, dengan diameter kurang dari 5mm, dan dikelilingi oleh pinggiran yang eritematus. Ulserasi pada MiRAS cenderung mengenai daerah-daerah non-keratin, seperti mukosa labial, mukosa bukal dan dasar mulut. Ulserasi bisa tunggal atau merupakan kelompok yang terdiri atas empat atau lima dan akan sembuh dalam jangka waktu 10-14 hari tanpa meninggal beka.
2. Stomatitis aphtosa major (MaRAS)
Hanya sebagian kecil dari pasien yang terjangkit stomatitis aphtosa jenis ini. Namun jenis stomatitis aphtosa pada jenis ini lebih hebat daripada stomatitis jenis minor (MiRAS). Secara klasik, ulser ini berdiameter kira-kira 1-3 cm, dan berlangsung selama 4minggu atau lebih dan dapat terjadi pada bagian mana saja dari mukosa mulut, termasuk daerah-daerah berkeratin. Stomatitis aphtosa major ini meninggalkan bekas, bekas pernah adanya ulser seringkali dapat dilihat penderita MaRAS; jaringan parut terjadi karena keseriusan dan lamanya lesi.
3. Ulserasi herpetiformis (HU)
Istilah ’herpetiformis’ digunakan karena bentuk klinis dari HU (yang dapat terdiri atas 100 ulser kecil-kecil pada satu waktu) mirip dengan gingivostomatitis herpetik primer, tetapi virus-virus herpes initidak mempunyai peran etiologi pada HU atau dalam setiap bentuk ulserasi aphtosa.
Cara Mengatasi Stomatitis
a. Bentuk Pengobatan
Bentuk-bentuk pengobatan stomatitis :
Obat kumur :
Obat-obat pelindung
Anestetik local
Obat-obat antibakteri atau antijamur
Kortikosteroid
Untuk mengatasi penyakit ini dapat menggunakan beberapa jenis obat baik dalam bentuk salep, obat tetes maupun obat kumur. Saat ini sudah tersedia pasta gigi yang dapat mengurangi terjadinya sariawan, jika ternyata sariawan terlanjur parah, dapat digunakan antibiotik dan obat penurun panas (bila disertai demam), sariawan umumnya akan sembuh dalam waktu 4 hari, namun bila sariawan tidak kunjung sembuh, segera periksa ke dokter karena hal itu dapat menjadi gejala awal adanya kanker mulut.
b. Pencegahan Stomatitis
Cara mencegah penyakit ini dengan mengetahui penyebabnya, apabila kita mengetahui penyebabnya diharapkan kepada kita untuk menghindari timbulnya sariawan ini diantaranya dengan :
1. Menjaga kebersihan mulut
2. Mengkonsumsi nutrisi yang cukup, terutama yang mengandung vitamin B12, vitamin C dan zat besi
3. Menghadapi stress dengan efektif
4. Menghindari luka pada mulut saat menggosok gigi atau saat menggigit makanan
5. Menghindari makanan yang terlalu panas atau terlalu dingin
6. Menghindari makanan dan obat-obatan atau zat yang dapat menimbulkan reaksi alergi pada rongga mulut.
Konsep Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
1. Riwayat
Kebersihan rongga mulut meliputi : mukosa pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah serta di langit – langit
Frekuensi kunjungan ke dokter gigi
Kesadaran akan adanya lesi atau area iritasi pada mulut, lidah, atau tenggorokan.
Masukan makanan setiap hari meliputi: jenis makanan, asupan vitamin dan mineral (vit.c, vit.b, dan zat besi)
Penggunaan alcohol dan tembakau.
Pemeriksaan fisik
Bibir
Dimulai dengan insfeksi terhadap bibir untuk kelembapan, hidrasi, warna, tekstur, simetrisitas dan adanya ulserasi atau fisura.
Gusi
Gusi diinspeksi terhadap inflamasi, perdarahan, retraksi, dan perubahan warna.
Lidah
Dorsal (punggung) diinspeksi untuk tekstur, warna dan lesi.
Rongga Mulut
Inspeksi bagian mutut terhadap adanya lesi, bercak putih terutama pada bagian mukosa pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah serta di langit – langit.
b. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan membran mukosa oral yang berhubungan dengan kondisi patologis, infeksi atau trauma kimia atau mekanis.
2. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh, yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mencerna nutrisi adekuat akibat kondisi oral atau gigi.
3. Gangguan cairan tubuh berhubungan dengan intake cairan yang kurang.
4. Nyeri yang berhubungan dengan lesi oral atau pengobatan.
5. Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan pengobatan.
6. Risiko terhadap infeksi yang behubungan dengan penyakit.
7. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit.
d. Intervensi Keperawatan
1. Perubahan membran mukosa oral yang berhubungan dengan kondisi patologis, infeksi atau trauma kimia atau mekanis. yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mencerna nutrisi adekuat akibat kondisi oral atau gigi.
Intervensi keperawatan :
Peningkatan perawatan mulut
Menjamin masukan makanan dan cairan adekuat
Meningkatkan control infeksi
2. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh,
Peningkatan perawatan mulut
Menjamin masukan makanan dan cairan adekuat
3. Gangguan cairan tubuh berhubungan dengan intake cairan yang kurang.
Intervensi keperawatan :
Menjamin masukan makanan dan cairan adekuat
Control intake dan output cairan pasien
4. Nyeri yang berhubungan dengan lesi oral atau pengobatan.
Intervensi keperawatan :
Meminimalkan ketidaknyamanan dan nyeri
Melakukan tindakan distraksi dan mengajarkan klien melakukan teknik relaksasi untuk meminimalisir nyeri
5. Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan pengobatan.
Intervensi keperawatan :
Mendukung citra diri positif
Meningkatkan komunikasi efektif
6. Risiko terhadap infeksi yang behubungan dengan penyakit.
Intervensi keperawatan :
Peningkatan perawatan mulut
Meminimalkan ketidaknyamanan dan nyeri
Meningkatkan control infeksi.
7. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit.
Intervensi keperawatan :
Pendidikan kesehatan dan pertimbangan perawatan di rumah tentang pentingnya perawatan kebersihan mulut, rongga mulut, dan gigi.
Mengajarkan teknik menggosok gigi yang benar
c. Implementasi
Sasaran : sasaran utama untuk pasien mencakup perbaikan pada kondisi membran mukosa oral.
e. Evaluasi
1. Menunjukkan bukti membran mukosa secara utuh.
2. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang diinginkan
3. Mempunyai cirri diri positif
4. Mendapatkan tingkat kenyamanan yang dapat diterima
5. Mengalami penurunan rasa takut yang berhubungan dengan nyeri, isolasi dan ketidakmampuan.
6. Bebas dari infeksi.
7. Mendapatkan informasi tentang proses penyakit dan program pengobatan.
Sumber : forexstrategybangdoen.blogspot.com

Displasia Bronkopulmoner

Displasia Bronkopulmoner merupakan cedera pada paru-paru akibat terapi oksigen dengan konsentrasi tinggi dan pemakaian ventilator. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada bayi prematur.
PENYEBAB
Displasia bronkopulmoner terjadi pada bayi yang mendapat ventilator dan terapi oksigen konsentrasi tinggi dalam jangka panjang. Pemberian terapi oksigen konsentrasi tinggi ini sebenarnya bertujuan untuk mengobati sindrom gawat pernafasan pada bayi baru lahir. Cedera paru-paru ini bisa disebabkan oleh meningkatnya tekanan dalam paru-paru karena ventilator mekanik atau karena keracunan oksigen yang terjadi akibat paparan oksigen dalam konsentrasi tinggi dan jangka panjang.
GEJALA
- Nafas cepat
- Warna kulit kebiruan
- Sesak nafas
PENANGANAN
Ventilator biasanya diperlukan untuk memberikan tekanan pada paru-paru agar jaringan paru mengembang dan memberi oksigen tambahan. Jika bayi sudah dapat menyesuaikan diri, maka tekanan dan konsentrasi oksigen akan dikurangi secara bertahap. Bayi bisa saja meninggal.
Pada bayi yang selamat, gangguan pernafasan akan hilang perlahan. Meski demikian, pada tahun-tahun pertama, bayi tersebut memiliki risiko tinggi terkena pneumonia. Pencegahan Untuk mencegah terjadinya displasia bronkopulmoner, sebaiknya alat bantu pernafasan dilepaskan secepat mungkin atau pemakaiannya dipersingkat.


Sumber : spesialis.info

Pengobatan Bursitis

Bursitis adalah peradangan pada bursa yang disertai rasa nyeri. Bursa adalah kantong datar yang mengandung cairan sinovial, yang memudahkan pergerakan normal dari beberapa sendi pada otot dan mengurangi gesekan. Bursa terletak pada sisi yang mengalami gesekan, terutama di tempat dimana tendon atau otot melewati tulang.
Ada sekitar 150 bursae (bentuk jamak dari bursa) di seluruh tubuh. Bursae berperan sebagai bantal pergerakan sendi yang berupa bungkusan seperti gelembung udara.
Terletak dekat tendon sendi, bursae mengurangi gesekan antara tulang dan tendon, membuat sendi fleksibel dan mudah untuk bergerak. Bursae tidak berisi udara, tetapi berisi cairan pelumas bening yang disebut cairan sinovial.
Bursitis terjadi ketika bursa mengalami peradangan. Kadang-kadang peradangan ini menyebabkan bursa memproduksi cairan lebih banyak sehingga menyebabkan membengkak. Karena bursa berada di setiap sendi pada tubuh, maka bursitis dapat berpotensi muncul di bagian tubuh manapun. Bagian yang paling umum terserang bursitis adalah bahu, pinggul, siku, lutut, pergelangan kaki, pantat, dan kadang-kadang ibu jari atau jari kaki.
Dalam keadaan normal, sebuah bursa mengandung sangat sedikit cairan. Tetapi jika terluka, bursa akan meradang dan terisi oleh cairan.
PENYEBAB
Penyebabnya seringkali tidak diketahui, tetapi bursitis dapat disebabkan oleh:
- Pemakaian berlebihan selama bertahun-tahun
- Cedera
- Gout
- Pseudogout
- Artritis rematoid
- Infeksi.
Yang paling mudah terkena bursitis adalah bahu, bagian tubuh lainnya yang juga bisa terkena bursitis adalah sikut, pinggul, panggul, lutut, jari kaki dan tumit.
GEJALA
Bursitis menyebabkan nyeri dan cenderung membatasi pergerakan, tetapi gejalanya yang khusus tergantung kepada lokasi bursa yang meradang. Jika bursa di bahu meradang, maka jika penderita mengangkat lengannya untuk memakai baju akan mengalami kesulitan dan merasakan nyeri.
Bursitis akut terjadi secara mendadak. Jika disentuh atau digerakkan, akan timbul nyeri di daerah yang meradang. Kulit diatas bursa tampak kemerahan dan membengkak. Bursitis akut yang disebabkan oleh suatu infeksi atau gout menyebabkan nyeri yang luar biasa dan daerah yang terkena tampak kemerahan dan teraba hangat.
Bursitis kronis merupakan akibat dari serangan bursitis akut sebelumnya atau karena cedera yang berulang. Pada akhirnya, dinding bursa akan menebal dan di dalamnya terkumpul endapan kalsium padat yang menyerupai kapur. Bursa yang telah mengalami kerusakan sangat peka terhadap peradangan tambahan. Nyeri menahun dan pembengkakan bisa membatasi pergerakan, sehingga otot mengalami penciutan (atrofi) dan menjadi lemah.
Serangan bursitis kronis berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu dan sering kambuh.
DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik. Daerah di sekitar bursa terasa sakit jika diraba dan pergerakan sendi tertentu menimbulkan nyeri. Jika bursa tampak membengkak, bisa diambil contoh cairan dari bursa dan dilakukan pemeriksaan terhadap cairan untuk menentukan penyebab dari peradangan.
PENGOBATAN
Bursa yang terinfeksi harus dikeringkan dan diberikan antibiotik. Bursitis akut non-infeksius biasanya diobati dengan istirahat, dimana untuk sementara waktu sendi yang terkena tidak digerakkan dan diberikan obat peradangan non-steroid (misalnya indometasin, ibuprofen atau naproksen)
Kadang diberikan obat pereda nyeri. Selain itu bisa disuntikkan campuran dari obat bius lokal dan kortikosteroid langsung ke dalam bursa. Penyuntikan ini mungkin perlu dilakukan lebih dari 1 kali.
Pada bursitis yang berat diberikan kortikosteroid (misalnya prednison) per-oral (ditelan) selama beberapa hari. Setelah nyeri mereda, dianjurkan untuk melakukan latihan khusus guna meningkatkan daya jangkau sendi.
Bursitis kronis diobati dengan cara yang sama. Kadang endapan kalsium yang besar di bahu bisa dibuang melalui jarum atau melalui pembedahan. Kortikosteroid bisa disuntikkan langsung ke dalam sendi. Terapi fisik dilakukan untuk mengembalikan fungsi sendi. Latihan bisa membantu mengembalikan kekuatan otot dan daya jangkau sendi. Bursitis sering kambuh jika penyebabnya (misalnya gout, artritis rematoid atau pemakaian berlebihan) tidak diatasi.
Sumber : spesialis.info

Penyakit Cacar (Herpes)

Penyakit cacar adalah peyakit yang disebabkan oleh sebuah virus yang akan menyebabkan bintil-bintil merah berisi cairan diseluruh permukaan tubuh pada si penderita.Penyakit Cacar atau yang disebut sebagai ‘Herpes’ oleh kalangan medis adalah penyakit radang kulit yang ditandai dengan pembentukan gelembung-gelembung berisi air secara berkelompok. Penyakit Cacar atau Herpes ini ada 2 macam golongan, Herpes Genetalis dan Herpes Zoster.
Herpes Genetalis adalah infeksi atau peradangan (gelembung lecet) pada kulit terutama dibagian kelamin (vagina, penis, termasuk dipintu dubur/anus serta pantat dan pangkal paha/selangkangan) yang disebabkan virus herpes simplex (VHS), Sedangkan Herpes Zoster atau dengan nama lain ‘shingles’ adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh virus varicella-zoster yang menimbulkan gelembung cairan hampir pada bagian seluruh tubuh.
Herpes zoster juga dikatakan penyakit infeksi pada kulit yang merupakan lanjutan dari pada chickenpox (cacar air) karena virus yang menyerang adalah sama, Hanya terdapat perbedaan dengan cacar air. Herpes zoster memiliki ciri cacar gelembung yang lebih besar dan berkelompok pada bagian tertentu di badan, bisa di bagian punggung, dahi atau dada.
Cara Penularan Penyakit Cacar (Herpes)
Secara umum, seluruh jenis penyakit herpes dapat menular melalui kontak langsung. Namun pada herpes zoster, seperti yang terjadi pada penyakit cacar (chickenpox), proses penularan bisa melalui bersin, batuk, pakaian yang tercemar dan sentuhan ke atas gelembung/lepuh yang pecah. Pada penyakit Herpes Genitalis (genetalia), penularan terjadi melalui prilaku sex. Sehingga penyakit Herpes genetalis ini kadang diderita dibagian mulut akibat oral sex. Gejalanya akan timbul dalam masa 7-21 hari setelah seseorang mengalami kontak (terserang) virus varicella-zoster.
Seseorang yang pernah mengalami cacar air dan kemudian sembuh, sebenarnya virus tidak 100% hilang dari dalam tubuhnya, melainkan bersembunyi di dalam sel ganglion dorsalis sistem saraf sensoris penderita. Ketika daya tahan tubuh (Immun) melemah, virus akan kembali menyerang dalam bentuk Herpes zoster dimana gejala yang ditimbulkan sama dengan penyakit cacar air (chickenpox). Bagi seseorang yang belum pernah mengalami cacar air, apabila terserang virus varicella-zoster maka tidak langsung mengalami penyakit herpes zoster akan tetapi mengalami cacar air terlebih dahulu.
Tanda dan Gejala Penyakit Cacar (Herpes)
Tanda dan gejala yang timbul akibat serangan virus herpes secara umum adalah demam, menggigil, sesak napas, nyeri dipersendian atau pegal di satu bagian rubuh, munculnya bintik kemerahan pada kulit yang akhirnya membentuk sebuah gelembung cair. Keluhan lain yang kadang dirasakan penderita adalah sakit perut.
Penanganan dan Pengobatan Penyakit Cacar (Herpes)
Pada penderita penyakit cacar hal yang terpenting adalah menjaga gelembung cairan tidak pecah agar tidak meninggalkan bekas dan menjadi jalan masuk bagi kuman lain (infeksi sekunder), antara lain dengan pemberian bedak talek yang membantu melicinkan kulit. Penderita apabila tidak tahan dengan kondisi hawa dingin dianjurkan untuk tidak mandi, karena bisa menimbulkan shock.
Obat-obatan yang diberikan pada penderita penyakit cacar ditujukan untuk mengurangi keluhan gejala yang ada seperti nyeri dan demam, misalnya diberikan paracetamol. Pemberian Acyclovir tablet (Desciclovir, famciclovir, valacyclovir, dan penciclovir) sebagai antiviral bertujuan untuk mengurangi demam, nyeri, komplikasi serta melindungi seseorang dari ketidakmampuan daya tahan tubuh melawan virus herpes. Sebaiknya pemberian obat Acyclovir saat timbulnya rasa nyeri atau rasa panas membakar pada kulit, tidak perlu menunggu munculnya gelembung cairan (blisters).
Pada kondisi serius dimana daya tahan tubuh sesorang sangat lemah, penderita penyakit cacar (herpes) sebaiknya mendapatkan pengobatan terapy infus (IV) Acyclovir. Sebagai upaya pencegahan sebaiknya seseorang mendapatkan imunisasi vaksin varisela zoster. Pada anak sehat usia 1 – 12 tahun diberikan satu kali. Imunasasi dapat diberikan satu kali lagi pada masa pubertas untuk memantapkan kekebalan menjadi 60% – 80%. Setelah itu, untuk menyempurnakannya, berikan imunisasi sekali lagi saat dewasa. Kekebalan yang didapat ini bisa bertahan sampai 10 tahun.
Sumber : infopenyakit.com

09 Maret 2012

Radang Usus Buntu (Appendicitis)

Sebelum dibahas lebih jauh mengenai radang usus buntu yang dalam bahasa medisnya disebut Appendicitis, maka lebih dulu harus difahami apa yang dimaksud dengan usus buntu. Usus buntu, sesuai dengan namanya bahwa ini merupakan benar-benar saluran usus yang ujungnya buntu. Usus ini besarnya kira-kira sejari kelingking, terhubung pada usus besar yang letaknya berada di perut bagian kanan bawah.
Usus buntu adalah ujung yang tertutup, sempit, cacing seperti tabung hingga beberapa inci panjangnya yang mengikat ke cecum (bagian pertama dari Usus). (nama anatomisnya adalah appendix, vermiform appendix, berarti sambungan seperti ulat.) Dinding appendix mengandung jaringan getah bening yang merupakan bagian sistem kekebalan yang menghasilkan antibodi.
Usus buntu dalam bahasa latin disebut sebagai Appendix vermiformis, Organ ini ditemukan pada manusia, mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil. Pada awalnya Organ ini dianggap sebagai organ tambahan yang tidak mempunyai fungsi, tetapi saat ini diketahui bahwa fungsi apendiks adalah sebagai organ imunologik dan secara aktif berperan dalam sekresi immunoglobulin (suatu kekebalan tubuh) dimana memiliki/berisi kelenjar limfoid.
Seperti organ-organ tubuh yang lain, appendiks atau usus buntu ini dapat mengalami kerusakan ataupun ganguan serangan penyakit. Hal ini yang sering kali kita kenal dengan nama Penyakit Radang Usus Buntu (Appendicitis).
Penyebab Penyakit Radang Usus Buntu (Appendicitis)
Penyakit radang usus buntu ini umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, namun faktor pencetusnya ada beberapa kemungkinan yang sampai sekarang belum dapat diketahui secara pasti. Di antaranya faktor penyumbatan (obstruksi) pada lapisan saluran (lumen) appendiks oleh timbunan tinja/feces yang keras (fekalit), hyperplasia (pembesaran) jaringan limfoid, penyakit cacing, parasit, benda asing dalam tubuh, cancer primer dan striktur.
Diantara beberapa faktor diatas, maka yang paling sering ditemukan dan kuat dugaannya sebagai penyabab adalah faktor penyumbatan oleh tinja/feces dan hyperplasia jaringan limfoid. Penyumbatan atau pembesaran inilah yang menjadi media bagi bakteri untuk berkembang biak. Perlu diketahui bahwa dalam tinja/feces manusia sangat mungkin sekali telah tercemari oleh bakteri/kuman Escherichia Coli, inilah yang sering kali mengakibatkan infeksi yang berakibat pada peradangan usus buntu.
Makan cabai bersama bijinya atau jambu klutuk beserta bijinya sering kali tak tercerna dalam tinja dan menyelinap kesaluran appendiks sebagai benda asin, Begitu pula terjadinya pengerasan tinja/feces (konstipasi) dalam waktu lama sangat mungkin ada bagiannya yang terselip masuk kesaluran appendiks yang pada akhirnya menjadi media kuman/bakteri bersarang dan berkembang biak sebagai infeksi yang menimbulkan peradangan usus buntu tersebut.
Seseorang yang mengalami penyakit cacing (cacingan), apabila cacing yang beternak didalam usus besar lalu tersasar memasuki usus buntu maka dapat menimbulkan penyakit radang usus buntu.
Gambaran Penyakit Radang Usus Buntu (Appendicitis)
Peradangan atau pembengkakaan yang terjadi pada usus buntu menyebabkan aliran cairan limfe dan darah tidak sempurna pada usus buntu (appendiks) akibat adanya tekanan, akhirnya usus buntu mengalami kerusakan dan terjadi pembusukan (gangren) karena sudah tak mendapatkan makanan lagi.
Pembusukan usus buntu ini menghasilkan cairan bernanah, apabila tidak segera ditangani maka akibatnya usus buntu akan pecah (perforasi/robek) dan nanah tersebut yang berisi bakteri menyebar ke rongga perut. Dampaknya adalah infeksi yang semakin meluas, yaitu infeksi dinding rongga perut (Peritonitis).
Tanda dan Gejala Penyakit Radang Usus Buntu
Gejala usus buntu bervariasi tergantung stadiumnya;
Penyakit Radang Usus Buntu akut (mendadak).
Pada kondisi ini gejala yang ditimbulkan tubuh akan panas tinggi, mual-muntah, nyeri perut kanan bawah, buat berjalan jadi sakit sehingga agak terbongkok, namun tidak semua orang akan menunjukkan gejala seperti ini, bisa juga hanya bersifat meriang, atau mual-muntah saja.
Penyakit Radang Usus Buntu kronik.
Pada stadium ini gejala yang timbul sedikit mirip dengan sakit maag dimana terjadi nyeri samar (tumpul) di daerah sekitar pusar dan terkadang demam yang hilang timbul. Seringkali disertai dengan rasa mual, bahkan kadang muntah, kemudian nyeri itu akan berpindah ke perut kanan bawah dengan tanda-tanda yang khas pada apendisitis akut yaitu nyeri pd titik Mc Burney (istilah kesehatannya).
Penyebaran rasa nyeri akan bergantung pada arah posisi/letak usus buntu itu sendiri terhadap usus besar, Apabila ujung usus buntu menyentuh saluran kencing ureter, nyerinya akan sama dengan sensasi nyeri kolik saluran kemih, dan mungkin ada gangguan berkemih. Bila posisi usus buntunya ke belakang, rasa nyeri muncul pada pemeriksaan tusuk dubur atau tusuk vagina. Pada posisi usus buntu yang lain, rasa nyeri mungkin tidak spesifik begitu.
Pemeriksaan diagnosa Penyakit Radang Usus Buntu
Ada beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh Tim Kesehatan untuk menentukan dan mendiagnosa adanya penyakit radang usus buntu (Appendicitis) oleh Pasiennya. Diantaranya adalah pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiology ;
Pemeriksaan fisik.
Pada appendicitis akut, dengan pengamatan akan tampak adanya pembengkakan (swelling) rongga perut dimana dinding perut tampak mengencang (distensi). Pada perabaan (palpasi) didaerah perut kanan bawah, seringkali bila ditekan akan terasa nyeri dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri (Blumberg sign) yang mana merupakan kunci dari diagnosis apendisitis akut.
Dengan tindakan tungkai kanan dan paha ditekuk kuat / tungkai di angkat tinggi-tinggi, maka rasa nyeri di perut semakin parah. Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin bertambah bila pemeriksaan dubur dan atau vagina menimbulkan rasa nyeri juga. Suhu dubur (rectal) yang lebih tinggi dari suhu ketiak (axilla), lebih menunjang lagi adanya radang usus buntu.
Pemeriksaan Laboratorium.
Pada pemeriksaan laboratorium darah, yang dapat ditemukan adalah kenaikan dari sel darah putih (leukosit) hingga sekitar 10.000 – 18.000/mm3. Jika terjadi peningkatan yang lebih dari itu, maka kemungkinan apendiks sudah mengalami perforasi (pecah).
Pemeriksaan radiologi.
foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit. Namun pemeriksaan ini jarang membantu dalam menegakkan diagnosis apendisitis. Ultrasonografi (USG) cukup membantu dalam penegakkan diagnosis apendisitis (71 – 97 %), terutama untuk wanita hamil dan anak-anak. Tingkat keakuratan yang paling tinggi adalah dengan pemeriksaan CT scan (93 – 98 %). Dengan CT scan dapat terlihat jelas gambaran apendiks.
Penanganan dan Perawatan Penyakit Radang Usus Buntu
Bila diagnosis sudah pasti, maka penatalaksanaan standar untuk penyakit radang usus buntu (appendicitis) adalah operasi. Pada kondisi dini apabila sudah dapat langsung terdiagnosa kemungkinan pemberian obat antibiotika dapat saja dilakukan, namun demikian tingkat kekambuhannya mencapai 35%.
Pembedahan dapat dilakukan secara terbuka atau semi-tertutup (laparoskopi). Setelah dilakukan pembedahan, harus diberikan antibiotika selama 7 – 10 hari. Selanjutnya adalah perawatan luka operasi yang harus terhindar dari kemungkinan infeksi sekunder dari alat yang terkontaminasi dll.
Sumber : infopenyakit.com

06 Maret 2012

Vitamin E Bisa Bikin Tulang Keropos

Jakarta, Vitamin E terkandung secara alami pada berbagai makanan seperti minyak nabati, kacang-kacangan dan sayuran berdaun. Vitamin ini diyakini berkhasiat sebagai antioksidan, menjaga kesehatan dan memperlambat proses penuaan. Sayangnya, sebuah penelitian menemukan bahwa vitamin E dapat menyebabkan tulang keropos.

Para peneliti yang dipimpin oleh Shu Takeda dari Universitas Keio di Tokyo mengatakan bahwa temuan ini merupakan peringatan bagi orang-orang yang mengkonsumsi suplemen vitamin E. Takeda menegaskan bahwa vitamin E dapat merangsang sel-sel yang menyebabkan tulang keropos atau osteoporosis.

Osteoporosis adalah penyakit yang menyebabkan penipisan jaringan tulang dan hilangnya kepadatan tulang dari waktu ke waktu sehingga penderitanya rentan mengalami patah tulang. Penyakit ini banyak menyerang orang-orang tua, khususnya perempuan.

Para peneliti menjelaskan bahwa mempertahankan keseimbangan antara sel pembentuk tulang (osteoblas) dan sel perusak tulang (osteoklas) akan membuat tulang menjadi kuat. Penelitian sebelumnya menyarankan bahwa vitamin E bermanfaat bagi kesehatan tulang. Namun, para peneliti dari Jepang menemukan sebaliknya, vitamin E justru memicu produksi sel perusak tulang.

"Tulang yang sehat terdiri dari jaringan yang dinamis. Untuk menjaga kondisi ini, diperlukan keseimbangan antara osteoblas dan osteoklas. Memahami kompetisi sel-sel ini sangat penting untuk memahami bagaimana vitamin E mempengaruhi kesehatan tulang," kata Dr Robert Graham, internis di Lenox Hill Hospital di New York City seperti dilansir HealthDay, Senin (5/3/3012).

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Medicine ini menemukan bahwa tikus yang kekurangan vitamin E memiliki massa tulang yang lebih tinggi karena memiliki kerusakan tulang yang lebih sedikit. Sementara itu, tikus sehat yang diberi makan vitamin E dengan kadar yang sama seperti yang terdapat dalam suplemen manusia mengalami penurunan massa tulang sebesar 20% dalam waktu delapan minggu.

Penelitian Takeda ini juga menunjukkan bahwa vitamin D dapat meningkatkan pembentukan tulang, namun vitamin E justru sebaliknya. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk lebih memahami bagaimana vitamin E bekerja dalam manusia.

"Sebelum kami mulai memberitahu orang-orang untuk membuang suplemen vitamin E-nya, biarkan saya menyatakan bahwa hasil ini diperoleh dari penelitian pada tikus dan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk melihat risiko dan manfaatnya pada manusia," kata Graham.


Sumber: http://health.detik.com

Obat Scantaren

Scantaren mengandung natrium diklofenak. Diklofenak adalah obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID) digunakan untuk mengobati nyeri ringan hingga sedang. Tiap tablet kalium diklofenak, dimaksudkan untuk pemberian melalui mulut (per oral). Tablet kalium diklofenak adalah obat yang menunjukkan aktivitas anti inflamasi, analgesik, dan antipiretik. Mekanisme aksi dari tablet kalium diklofenak, seperti obat dari golongan NSAID lainnya, tidak sepenuhnya dipahami, tetapi mungkin terkait dengan penghambatan prostaglandin sintetase.

Indikasi

1. Untuk meredakan nyeri dan peradangan rheumatoid Arthritis
2. Spondilitis ankilosa
3. Osteoartritis
4. Spondylarthritis
5. Meredakan nyeri syndromes of vertebral column
6. Rematik non artikular

Dosis

Dewasa Tab 50 mg: 2-3 kali sehari. Sumber: MayoClinic, dari berbagai sumber

Komposisi

Mengandung natrium diklofenak.

Sumber : http://health.detik.com


05 Maret 2012

Obat Asma Kurang Efektif pada Anak Gemuk

Kompas.com-  Bagi pengidap asma, obat hirupan (inhaler) kortikosteroid merupakan obat yang efektif dan banyak dianjurkan para dokter. Akan tetapi pada anak yang bobot tubuhnya gemuk obat ini ternyata bekerja kurang efektif.

Untuk menyiasatinya, anak penderita asma yang kegemukan disarankan untuk melakukan terapi pengobatan jangka panjang.

"Pada populasi pasien kami yang cukup banyak menderita gejala asma berat, anak yang kegemukan dan obesitas membutuhkan dosis dua kali daripada anak yang berat badannya normal," kata Dr.Pia Hauk, asisten profesor pediatrik dari National Jewish Health, Denver, AS.

Penelitian yang dilakukan Hauk berskala kecil, yakni pada 61 anak penderita asma berusia 2-18 tahun. Sekitar 34 anak memiliki berat badan normal,  13 anak kegemukan, dan 14 anak obesitas. Mayoritas anak, yakni 56 orang, menggunakan kortikosteroid hirupan.

Para peneliti mengukur indeks massa tubuh, dosis obat harian, serta melakukan kultur darah dan sel pernapasan untuk melihat respon terhadap obat asma. Hasilnya diketahui respon obat asma menurun pada anak yang berat badannya di atas normal. Demikian juga pada pemeriksaaan gen.

Kendati begitu, karena studi yang dilakukan Hauk ini masih dalam tahap awal, saat ini belum ada rekomendasi mengenai perubahan dosis obat pada anak sampai dilakukannya penelitian berskala besar.

Sampai saat ini cara terbaik untuk mengendalikan asma adalah menghindari pemicu asma. Pemicu paling umum serangan asma adalah asap rokok, debu rumah, dan hewan peliharaan. Di luar ruangan, serbuk sari dan udara dingin paling sering menjadi pemicu asma.

Waspadai Garam dalam Makanan

Kompas.com - Makanan yang mengandung garam selama ini hanya identik dengan makanan asin. Padahal cukup banyak makanan yang sebenarnya berasa manis atau gurih yang menyimpan sodium cukup tinggi.

Menurut data Center for Disease Control and Prevention (CDC), roti ternyata menjadi sumber sodium paling tinggi dalam pola makan orang Amerika. Kadar garam yang sama juga ditemukan dari keripik kentang dan pretzel.

Sebagai perbandingan, satu iris (slice) roti mengandung 100-200 miligram, tergantung tipe dan merek roti, sedangkan satu ons keripik kentang mengandung sekitar 120 mg atau lebih sodium.

Sumber sodium lain yang banyak ditemukan pada pola konsumsi orang Amerika antara lain daging olahan, pizza, daging unggas, burger siap saji, sandwich, keju, dan hidangan pasta.

"Roti sebenarnya tidak lebih asin dari makanan lainnya, tapi dikonsumsi cukup sering. Selain itu roti juga menjadi sumber kalori karena dikonsumsi dalam jumlah banyak," kata Mary Cogsweell, dari CDC.

Sementara itu kandungan natrium cukup tinggi yang sering dikonsumsi dalam makanan kita sehari-hari antara lain mi ayam, sosis, mi bakso, mi instan, sop buntut, bahkan donat pun mengandung sodium cukup tinggi. Saus, acar, dan makanan kaleng juga mengandung garam yang tinggi.

Sodium atau natrium berperan penting dalam menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. Selain itu ia juga berfungsi menghantar impuls saraf yang memengaruhi kontraksi dan relaksasi otot.

Jika terlalu banyak natrium dalam darah, volume darah akan meningkat karena natrium menarik dan mengikat air. Akibatnya jantung harus memompa lebih keras untuk mengalirkan darah yang meningkat itu sehingga tekanan pada arteri meningkat.

Terlalu banyak mengonsumsi sodium diketahui akan meningkatkan risiko stroke, gagal jantung, osteoporosis, kanker usus, dan penyakit ginjal.

Penyakit Paru Kronik Sering Dikira Asma

Selama ini, kebanyakan masyarakat masih sulit membedakan antara asma dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau juga dikenal dengan istilah COPD. Hal tersebut menurut Prof. Dr. Faisal Yoenoes SpP (K), dari Departemen Paru dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) disebabkan karena gejala yang ditimbulkan hampir sama.
“Kadang-kadang orang bingung membedakan asma dan PPOK. Kalau asma itu biasanya terjadi pada usia muda dan memburuk pada malam hari. Kalau malam hari makin sesak, makin sering batuk itu asma,” katanya saat acara Diskusi Publik Sosialisasi Penyakit Tidak Menular, Senin, (15/8/2011) lalu, di Jakarta.
Sedangkan PPOK umumnya dialami pada usia sekitar 45 tahun dan tidak ada faktor keturunan atau riawat penyakit dalam keluarga. Faktor risiko terbesar karena kebiasaan merokok dan polusi udara.
Penyakit paru kronik dapat menyebabkan kapasitas fungsional serta kualitas hidup yang menurun. Meski telah ditangani dengan pengobatan yang standar dan rasional, banyak penderita paru kronik yang mengalami kecacatan (disability). Sesak nafas dan cepat lelah merupakan indikasi utama yang menggangu. Gejala sesak nafas ini akan bertambah dengan aktifitas fisik. Proses kecacatan mulai berjalan dimana pada waktu awal aktivitas fisik berat yang menimbulkan sesak. Penderita akan mengurangi aktivitas fisiknya sampai akhirnya sesak terjadi hanya dengan aktivitas ringan.
Kemampuan fungsionalnya mulai berkurang, aktivitas sehari-hari seperti mandi, makan atau berpakaian tidak bisa dilakukan sendiri sehingga memerlukan bantuan. Hubungan dengan lingkungan sosial berkurang dan kemampuan individu untuk berperan di masyarakat menjadi terbatas. Penderita hanya berdiam diri saja di rumah sehingga akhirnya akan terjadi sesuatu deconditioning syndrome, yang mana telah terjadi penurunan dari semua fungsi organ tubuh.
Upaya untuk meningkatkan kemampuan fungsional serta kualitas hidup penderita paru kronik harus sejalan dengan pengobatan medikamentosa. Upaya ini dilaksanakan melalui program rehabilitasi paru. Berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang dikembangkan, rehabilitasi paru menjadi penanganan standar yang direkomendasikan untuk penderita penyakit paru kronik terutama penderita penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Gejala awal seperti batuk berdahak di pagi hari harus diwaspadai sebagai tanda PPOK. Selain itu, pada orang dengan PPOK akan mengalami sesak nafas pada saat jalan kaki. Sehingga, apabila orang tersebut berjalan lebih lambat dibanding orang seumurannya, ada kemungkinan mengidap PPOK.
“Gejalanya, batuk, sesak napas, makin lama makin buruk, jadi mirip asma. Selama ini, orang tahu hanya asma saja. Lebih baik periksa fungsi paru-paru apa sudah ada obstruksi atau tidak. Kalau sudah ada, berarti PPOK,” ucapnya.
Ia juga menambahkan, untuk pengobatan orang dengan PPOK tidak jauh berbeda dengan asma. Tetapi yang membedakan adalah, asma bisa saja menghilang dengan bertambahnya umur, sedangkan PPOK tidak dapat sembuh secara total dan akan terus berjalan memburuk seiring bertambahnya usia.
Faisal menambahkan, sejauh ini belum ada data pasti mengenai jumlah kasus PPOK di Indonesia. Dalam waktu dekat ini, kira-kira bulan September 2011, kata Faisal, Balitbangkes Kementerian Kesehatan akan melakukan survei bersama dengan FKUI untuk meneliti kasus PPOK.
“Nanti kita akan tahu berapa jumlahnya. Surveinya sendiri akan kita lakukan selama tiga bulan, semoga di akhir tahun kita punya angka PPOK di Indonesia,” terangnya.
Untuk mengetahui apakah seseorang berisiko mengidap PPOK atau tidak, dapat dengan mudah diketahui dengan cara memperhitungkan indeks Brinkman. Seseorang dikatakan berisiko mengidap PPOK apabila indeksnya di atas 200.
“Caranya, banyaknya batang rokok rata-rata sehari dikali tahun. Misalnya kalau orang merokok 10 batang sehari, maka jika dikalikan 20 tahun hasilnya kan 200. Jadi kalau sudah diatas itu dia punya risiko PPOK,” tandasnya.
Sumber : health.kompas.com

Gagal Ginjal, Kenali Gejalanya Sejak Dini

Ginjal-ginjal memainkan peran-peran kunci dalam fungsi tubuh, tidak hanya dengan menyaring darah dan mengeluarkan produk-produk sisa, namun juga dengan menyeimbangkan tingkat-tingkat elektrolit-elektrolit didalam tubuh, mengontrol tekanan darah, dan menstimulasi produksi dari sel-sel darah merah.
Ginjal-ginjal berlokasi dalam perut ke arah kebelakang, normalnya satu pada setiap sisi dari spine (tulang belakang). Mereka mendapat penyediaan darah mereka melalui arteri-arteri renal secara langsung dari aorta dan mengirim darah kembali ke jantung via vena-vena renal ke vena cava. Istilah “renal” berasal dari nama Latin untuk ginjal.
Ginjal-ginjal mempunyai kemampuan untuk memonitor jumlah cairan tubuh, konsentrasi-konsentrasi dari elektrolit-elektrolit seperti sodium dan potassium, dan keseimbangan asam-basa dari tubuh. Mereka menyaring produk-produk sisa dari metabolisme tubuh, seperti urea dari metabolisme protein dan asam urat dari uraian DNA. Dua produk-produk sisa dalam darah dapat diukur: blood urea nitrogen (BUN) dan creatinine (Cr).
Ketika darah mengalir ke ginjal, sensor-sensor didalam ginjal memutuskan berapa banyak air dikeluarkan sebagai urin, bersama dengan konsentrasi apa dari elektrolit-elektrolit. Contohnya, jika seseorang mengalami dehidrasi dari latihan atau dari suatu penyakit, ginjal-ginjal akan menahan sebanyak mungkin air dan urin menjadi sangat terkonsentrasi. Ketika kecukupan air hadir dalam tubuh, urin adalah jauh lebih encer, dan urin menjadi bening. Sistim ini dikontrol oleh renin, suatu hormon yang diproduksi dalam ginjal yang adalah bagian dari sistim-sistim regulasi cairan dan tekanan darah dari tubuh.
Ginja-ginjal adalah juga sumber dari erythropoietin didalam tubuh, suatu hormon yang menstimulasi susmsum tulang (bone marrow) untuk membuat sel-sel darah merah. Sel-sel khusus didalam ginjal yang memonitor konsentrasi oksigen dalam darah. Jika tingkat-tingkat oksigen jatuh, tingkat-tingkat erythropoietin naik dan tubuh mulai membuat lebih banyak sel-sel darah merah.
Setelah ginjal-ginjal menyaring darah, urin dikeluarkan melalui ureter, suatu tabung yang tipis yang menghubungkannya ke kantong kemih. Ia kemudian disimpan didalam kantong kemih menunggu buang air kecil (kencing), ketika kantong kemih mengirim urin keluar dari tubuh melalui urethra.
Penyakit ginjal memang tidak menular, tetapi menimbulkan kematian dan dibutuhkan biaya mahal untuk pengobatan yang terus berlangsung seumur hidup pasien. Karenanya peningkatan kesadaran dan deteksi dini akan mencegah komplikasi penyakit ini menjadi kronis.
Menurut Prof.Dr.dr.Endang Susalit, SpPD-KGH, dari Divisi Ginjal Hipertensi FKUI, penyakit ginjal disebut kronik jika kerusakannya sudah terjadi selama lebih dari tiga bulan dan lewat pemeriksaan terbukti adanya kelainan struktur atau fungsi ginjal.
Pada penyakit ginjal kronik terjadi penurunan fungsi ginjal secara perlahan sehingga terjadi gagal ginjal yang merupakan stadium terberat penyakit ginjal kronik. Jika sudah sampai stadium ini, pasien memerlukan terapi pengganti ginjal berupa cuci darah (hemodialisis) atau cangkok ginjal yang biayanya mahal.
Berat ginjal yang kita miliki memang hanya 150 gram atau sekitar separuh genggaman tangan kita. Tetapi fungsi ginjal sangat strategis dan mempengaruhi semua bagian tubuh. Selain mengatur keseimbangan cairan tubuh, eletrolit, dan asam basa, ginjal juga akan membuang sisa metabolisme yang akan meracuni tubuh, mengatur tekanan darah dan menjaga kesehatan tulang.
Kenali tandanya
Penyakit ginjal sering tanpa keluhan sama sekali, tidak jarang seseorang kehilangan 90 persen fungsi ginjalnya sebelum mulai merasakan keluhan. Pasien sebaiknya waspada jika mengalami gejala-gejala seperti: tekanan darah tinggi, perubahan jumlah kencing, ada darah dalam air kencing, bengkak pada kaki dan pergelangan kaki, rasa lemah serta sulit tidur, sakit kepala, sesak, dan merasa mual dan muntah.
Setiap orang dapat terkena penyakit ginjal, namun mereka yang disarankan melakukan pemeriksaan dini adalah orang yang memilik faktor risiko tinggi, yakni mereka yang memiliki riwayat darah tinggi di keluarga, diabetes, penyakit jantung, serta ada anggota keluarga yang dinyatakan dokter sakit ginjal.
Ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mengetahui kondisi ginjal kita. Yang paling umum adalah pemeriksaan urin. Adanya protein atau darah dalam kencing menunjukkan kelainan dari ginjal.
Selain itu, kita juga bisa melakukan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar kreatinin dan urea dalam darah. Jika ginjal tidak bekerja, kadar kedua zat itu akan meningkat dalam darah. Pemeriksaan lanjutan untuk mengenali kelainan berupa pemeriksaan radiologis dan biopsi ginjal. Biasanya pemeriksaan ini atas indikasi tertentu dan sesuai saran dokter.
Gaya hidup sehat
Gangguan ginjal bisa dicegah dengan berbagai cara, terutama dengan menerapkan gaya hidup sehat. Berhenti merokok, memperhatikan kadar kolesterol, kendalikan berat badan, menghindari kekurangan cairan dengan cukup minum air putih tidak lebih dari 2 liter setiap hari. “Minum air secara berlebihan justru akan merusak ginjal,” kata Dr.David Manuputty, SpBU dari RSCM Jakarta.
Selain gaya hidup sehat, lakukan pemeriksaan kesehatan tahunan pada dokter, mintalah pula agar urin Anda diperiksa untuk melihat adanya darah atau protein dalam urin. Yang tak kalah penting, berhati-hatilah dalam menggunakan obat anti nyeri khususnya jenis obat anti inflamasi non steroid.
  • Sumber : dechacare.com